Balita Jadi Kelompok yang Perlu Diwaspadai
Selain faktor musiman, kondisi lingkungan turut memengaruhi penyebaran influenza. Anggraini menjelaskan ruangan tertutup dengan ventilasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penularan karena sirkulasi udara menjadi terbatas.
“Hal-hal yang menutup, tidak ada sinar matahari masuk, ini justru meningkatkan penularan flu. Sehingga perasaannya ini yang flu itu tinggi, dan flu sangat menular,” ucap Anggraini.
Risiko penularan influenza meningkat di tempat yang mempertemukan banyak anak dalam satu ruangan, seperti sekolah dan daycare. Virus lebih mudah menyebar ketika anak terinfeksi tetap beraktivitas bersama anak lainnya dalam lingkungan yang sama.
IDAI mendorong masyarakat memperbaiki ventilasi ruangan untuk mengurangi risiko penularan influenza di lingkungan keluarga maupun publik. Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan tangan serta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika sedang sakit.
“Jika influenza meningkat saat kemarau, perbaiki ventilasi ruangan dan tingkatkan kebersihan tangan untuk mencegah penularan. Orang yang sedang sakit sebaiknya tidak masuk sekolah maupun kantor demi mencegah penyebaran influenza,” ujar Anggraini.
Bedakan Komplikasi Neurologis dan Kejang Demam
Data Kemenkes menunjukkan kelompok usia 0-4 tahun menyumbang proporsi terbesar dari kasus influenza yang terdeteksi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena semakin muda usia anak, risiko mengalami komplikasi dapat meningkat, terutama apabila anak memiliki penyakit penyerta.
Anggraini mengatakan influenza pada anak umumnya dapat sembuh, tetapi dalam kondisi tertentu infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah gangguan neurologis, meski kejadiannya sangat jarang.
“Influenza A dapat menyebabkan komplikasi hingga kerusakan otak, meski kasus tersebut tergolong jarang dengan angka sekitar 0,2 persen. Namun, kondisi itu tetap perlu diwaspadai karena dapat terjadi pada anak dengan faktor risiko tertentu,” ujarnya.
Ia menyebut sekitar empat dari 100 ribu anak yang mengalami influenza dapat mengalami gejala neurologis. Dari kasus tersebut, sebagian besar berkaitan dengan Influenza A.
“Sekitar empat dari 100 ribu anak yang terkena influenza dapat mengalami gejala neurologis, dengan mayoritas akibat influenza A. Sekitar 80 persen kasus gejala neurologis tersebut berkaitan dengan influenza A,” katanya.
Risiko komplikasi berat, lanjut Anggraini, lebih besar pada anak dengan komorbid atau kondisi immunocompromised. Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian lebih apabila anak yang terinfeksi influenza memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Anggraini mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan komplikasi neurologis akibat influenza dengan kejang demam pada anak. Keduanya merupakan kondisi berbeda sehingga memerlukan pemahaman dan penanganan sesuai penyebab serta gejala yang muncul.
Kejang demam umumnya terjadi pada anak berusia enam tahun ke bawah ketika mengalami demam dan dapat dipengaruhi riwayat keluarga. Sementara itu, komplikasi neurologis terjadi ketika infeksi menyerang sistem saraf.
“Pada umumnya memang ada komorbidnya, ada immunocompromisenya yang meningkatkan risiko komplikasi dari flu yang berat. Sangat berbeda, yang namanya kejang demam itu betul-betul di luar susunan saraf otak yang merusak otak,” ujar Anggraini.
“Jadi, sangat berbeda antara kejang demam dengan infeksi yang menyerang otak pada anak. Infeksi otak dapat disebabkan virus, bakteri, parasit, hingga jamur yang menyerang sistem saraf anak,” ucap Anggraini.
Meski demikian, IDAI menekankan komplikasi neurologis akibat influenza bukan kondisi yang lazim terjadi pada anak sehat. Risiko tersebut lebih perlu diperhatikan pada anak yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
“Komplikasi akibat influenza tidak serta-merta terjadi pada setiap anak, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan baik. Kasus komplikasi sangat jarang terjadi apabila anak dalam kondisi sehat tanpa penyakit penyerta,” kata Anggraini menegaskan.
Pemerintah dan IDAI menekankan pemantauan kasus influenza secara intensif untuk mencegah penularan tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat. Masyarakat diminta menjaga kebersihan tangan, memastikan ventilasi ruangan baik, serta menghindari aktivitas luar saat sakit.


