Friday, December 2, 2022
spot_img
HomeInternationalJurang Resesi di Inggris Kian Terlihat Mengancam Zona Euro, Berikut Penjelasannya

Jurang Resesi di Inggris Kian Terlihat Mengancam Zona Euro, Berikut Penjelasannya

INAKINI.COM – Kondisi ekonomi di Inggris mengalami kontraksi terutama di kuartal ketiga yang mana menjadi tanda adanya resesi yang nantinya bisa melanda kawasan Eropa.

Dari media setempat dikutip Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics) pada Jumat 11 November 2022 dimana angka PDB Inggris alami penurunan mencapai 0.2% pada periode Juli dan September hingga mengakhiri pada lima kuartal pertumbuhan berturut-turut.

Inggris menjadi salah satu negara ekonomi G7 yang masih alami kontraksi di kuartal ketiga dan angka pertumbuhan kuartal III mencapai angka 0.4% lebih kecil dibandingkan akhir tahun 2018 sebelum adanya pandemi Covid-19.

Baca Juga : ASEAN Sepakati dan Akui Timor Leste Anggota ke 11

“Penurunan triwulan didorong oleh manufaktor yang mengalami penurunan di sebagian besar industri. Kemudian Industri jasa secara keseluruhan tidak bertumbuh atau flat saja, sementara industri yang terkait langsung konsumen seperti ritel mengalami penurunan signifikan,” dikutip dari Direktur Statistik Ekonomi ONS Darren Morgan dilansir dari halaman CNN pada Sabtu 12 November 2022.

Terdapat informasi hari libur ekstra bagi perbankan ketika pemakaman Ratu Elizabeth II tepat pada 19 September hingga berperan penting terhadap kontraksi ekonomi. Sebab beberapa bisnis harus tutup ataupun menyesuaikan dengan operasi ketika pemakaman Ratu.

ONS memberi data mengenai PDM mengalami penurunan mencapai 0.6% tepatnya pada bulan September.

Baca Juga : Sentimen Negatif Industri Aset Kripto Muncul Setelah Krisis FTX Terjadi, Ini Informasinya

Penurunan angka PDB tersebut memperlihatkan adanya perlambatan ekonomi secara luas. Bahkan pendapatan rumah tangga juga mendapat dampak cukup besar selama beberapa dekade terakhir.

Angka suku bunga mengalami peningkatan hingga kepercayaan bisnis serta konsumen juga alami penurunan.

“Keinginan belanja konsumen lebih rendah kemungkinan masih mendorong PDB ke arah kontraksi kedua secara berkelanjutan selama kuartal keempat,” dilansir dari pernyataan James Smith, seorang ekonom ING di satu catatannya di hari Jumat 11 November 2022.

Baca Juga : Harapan Presiden Jokowi: ASEAN – India Bisa Dorong Penuntasan Isu Pangan dan Kesehatan

Adanya pertumbuhan ekonomi melemah membuat tekanan ganda bagi pemerintah Inggris. Kemudian ada proses memulihkan kredibilitas di hadapan investor dengan penurunan poundsterling hingga diikuti jatuhnya pasar obligasi di bulan September karena rencana mantan Perdana Menteri Liz Truss melakukan pemangkasan pajak.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments