Saturday, August 8, 2026
spot_img
HomeBUMNKementerian Keuangan Ambil Alih Utang Whoosh dari Danantara

Kementerian Keuangan Ambil Alih Utang Whoosh dari Danantara

INAKINI.COM – Pemerintah akan mengambil alih utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) melalui badan layanan khusus (special mission vehicle/SMV) PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan skema tersebut tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelunasan utang tidak akan menggunakan dana APBN, melainkan berasal dari keuntungan PT SMF sebagai badan usaha milik negara yang ditunjuk menjalankan skema tersebut.

“Jadi walaupun dikelola oleh pemerintah tidak akan membebani APBN. PT SMF kan juga punya untung, sebagian kita biarkan ke situ (pelunasan utang Whoosh). Kira-kira begitu gambaran kasarnya,” kata Purbaya Yudhi Sadewa pada Rabu (5/8).

Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, pengambilalihan dilakukan melalui kepemilikan 60 persen saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium badan usaha milik negara (BUMN) yang menjadi bagian dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh.

Pemerintah menargetkan proses pengalihan saham PT PSBI kepada PT SMF rampung pada pertengahan September 2026.

PEMERINTAH AMBIL ALIH SAHAM KONSORSIUM INDONESIA

PT PSBI merupakan konsorsium BUMN yang dibentuk untuk menggarap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Membengkaknya beban utang proyek tersebut selama ini turut memengaruhi kondisi keuangan para anggota konsorsium.

Komposisi kepemilikan saham PT PSBI saat ini terdiri atas:

  • PT Kereta Api Indonesia (Persero): 51,37 persen
  • PT Wijaya Karya (Persero) Tbk: 39,12 persen
  • PT Perkebunan Nusantara I: 1,21 persen
  • PT Jasa Marga (Persero) Tbk: 8,3 persen

Setelah pengambilalihan rampung, Kementerian Keuangan akan menguasai 60 persen saham konsorsium Indonesia di KCIC. Sementara itu, kepemilikan 40 persen milik konsorsium perusahaan China tidak berubah.

“Kan punya dia (saham PT PSBI) 60 persen, itu kasih ke kita (Kemenkeu), 40 persen masih ada yang lain, masih ada China. Konsorsium kasihkan saham punya dia ke saya. Itu punya kita semua nanti perusahaannya (PSBI),” ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Ia juga memastikan PT PSBI tidak akan dibubarkan meski kepemilikan sahamnya berpindah.

“Enggak (dibubarkan), konsorsiumnya ada yang dikasihkan saham punya dia ke saya,” katanya.

Beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung diperkirakan mencapai US$7,27 miliar atau sekitar Rp118,37 triliun.

Sekitar 75 persen dari total utang tersebut berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan suku bunga sekitar 3,5 hingga 4 persen.

Besarnya utang proyek Whoosh telah lama menjadi sorotan karena membebani neraca keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR pada Agustus 2025, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengakui proyek tersebut menjadi tantangan besar bagi kondisi keuangan perseroan.

Pinjaman tersebut membuat konsorsium KCIC, yang mayoritas dimiliki PT KAI melalui PT PSBI, harus menanggung pembayaran bunga utang sekitar Rp2 triliun setiap tahun.

Purbaya Yudhi Sadewa juga mengatakan pemerintah China tetap berkomitmen melanjutkan kerja sama proyek kereta cepat, termasuk membuka peluang perpanjangan jalur hingga Jawa Timur.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah mengomunikasikan rencana restrukturisasi utang tersebut kepada pemerintah China.

China merespons baik upaya penyelesaian utang Whoosh yang akan dilakukan Indonesia.

“Ya, kalau penyelesaian selalu baik,” kata Airlangga Hartarto di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (6/8).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments