INAKINI.COM – Timor Leste menyiapkan pembebasan pajak hingga 50 tahun bagi investor asing untuk menarik lebih banyak investasi. Rencana tersebut muncul ketika negara tetangga Indonesia itu mulai menikmati peningkatan investasi, setahun setelah resmi bergabung dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara/ Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Mengutip Kyodo News pada Rabu, 28 Oktober, Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta mengatakan kepercayaan investor terhadap negaranya meningkat sejak menjadi anggota ke-11 ASEAN pada 26 Oktober 2025.
“Mungkin karena bergabung dengan ASEAN,” kata Ramos-Horta dalam wawancara dengan Kyodo News di Istana Kepresidenan Dili, Senin, 26 Oktober.
Negara berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa itu kini mulai menarik investasi dari sejumlah negara, termasuk Jepang, Prancis, China, dan Indonesia.
Untuk memperbesar peluang masuknya modal asing, pemerintah Timor Leste sedang merevisi undang-undang investasi. Salah satu ketentuan yang disiapkan adalah pembebasan pajak bagi investor asing dengan jangka waktu hingga 50 tahun.
Rancangan aturan tersebut telah disetujui Dewan Menteri dan diajukan kepada parlemen. Namun, insentif pajak itu belum berlaku karena masih menunggu pengesahan.
“Saya yakin rancangan undang-undang ini akan disetujui secara bulat oleh parlemen dalam waktu kurang dari sebulan, dan setelah itu akan resmi berlaku sebagai undang-undang,” ujar Ramos-Horta.
Sejumlah investasi besar mulai dikembangkan di negara tersebut. Perusahaan perdagangan Jepang, Itochu Corp., bersama perusahaan asal Prancis tengah mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya.
Sementara itu, perusahaan Jepang Tsuneishi Shipbuilding Co. yang berbasis di Hiroshima berencana membangun galangan kapal.
Ramos-Horta berharap proyek-proyek tersebut dapat menciptakan ribuan lapangan kerja, terutama bagi generasi muda. Investasi itu juga diharapkan membantu Timor Leste mengurangi ketergantungan ekonominya pada minyak dan gas.
“Hal ini penting bagi Timor Leste, tidak hanya untuk penciptaan lapangan kerja, tetapi juga untuk meningkatkan kerja sama kami dengan Jepang,” katanya.
Perusahaan Indonesia juga mulai memperluas kegiatan usaha di Timor Leste, meski dengan skala investasi yang lebih kecil.
Menurut Ramos-Horta, semakin banyak perusahaan Indonesia yang masuk ke sektor kelautan, terutama usaha rumput laut, lobster, kepiting, dan mutiara.
Selain itu, perusahaan Indonesia tengah mengupayakan perluasan bandara yang sudah ada. Terdapat pula rencana pembangunan hotel berbintang lima menjelang 2029, ketika Timor Leste dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan ASEAN.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan China akan membangun pusat konvensi baru di kawasan tepi laut Dili.
Ibu kota Timor Leste itu juga mulai mengalami perubahan. Sejumlah proyek pembangunan berjalan, mulai dari pelebaran jalan, penataan kawasan tepi laut, hingga pembangunan gedung bertingkat.
Namun, pelebaran jalan juga membawa konsekuensi bagi masyarakat. Ratusan rumah dan bangunan harus direlokasi untuk mendukung proyek tersebut.
Selain membicarakan investasi, Ramos-Horta menyinggung hubungan pertahanan negaranya dengan China.
Timor Leste telah menyepakati penguatan kerja sama dengan Beijing pada 2024, termasuk rencana latihan militer bersama. Namun, Ramos-Horta lebih memilih latihan yang melibatkan banyak negara dibandingkan hanya dua negara.
Ia mengibaratkan latihan militer bilateral antara negara kecil dan negara besar seperti “seekor nyamuk yang ikut berlatih bersama seekor gajah”.
“Jika latihan tersebut melibatkan China, Amerika Serikat, Filipina, dan Indonesia, maka kami akan ikut serta,” ujarnya.
Timor Leste resmi bergabung dengan ASEAN setelah menunggu selama 14 tahun sejak mengajukan permohonan keanggotaan pada 2011.
Keanggotaan tersebut merupakan hasil upaya diplomatik panjang yang melibatkan Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmao, dan sejumlah pihak lainnya.
Timor Leste sendiri memperoleh kemerdekaan yang diakui secara internasional pada 2002, setelah referendum yang diselenggarakan dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1999.
Kini, setahun setelah bergabung dengan ASEAN, pemerintah Timor Leste berusaha memperluas sumber pertumbuhan ekonomi di luar minyak dan gas. Namun, rencana pembebasan pajak hingga 50 tahun masih harus mendapatkan persetujuan parlemen sebelum dapat diberlakukan.


