INAKINI.COM – Pemerintah Singapura membuka opsi untuk menempuh jalur hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kabut asap dan memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan di Indonesia.
Dilansir CNA, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu mengatakan, pemerintah masih mengumpulkan dan meninjau data terkait situasi kabut asap yang sedang berlangsung sebelum mempertimbangkan langkah lebih lanjut.
“Kami akan memberikan pertimbangan yang semestinya terhadap data tersebut,” kata Fu kepada wartawan dalam acara pembagian masker di Yuhua Community Club, Rabu (14/10/2026) malam.
Sebagai informasi, Singapura memiliki Transboundary Haze Pollution Act yang mulai berlaku pada September 2014. Undang-undang tersebut memungkinkan pemerintah mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab menyebabkan atau berkontribusi terhadap pencemaran kabut asap di Singapura, termasuk jika aktivitas perusahaan itu berlangsung di luar negeri.
Singapura berharap banyak pada Indonesia
Fu berharap Indonesia dapat mengendalikan kebakaran hutan dan lahan meskipun menghadapi kondisi cuaca yang menantang.
“Ini merupakan tahun yang sangat sulit karena El Nino. Cuacanya sangat kering, dan kami tahu persoalannya sangat kompleks. Kami berharap mereka berhasil dan siap membantu jika kami bisa,” ujarnya.
Fu mengatakan, Singapura juga menantikan pembahasan mengenai persoalan kabut asap bersama negara-negara anggota ASEAN di tingkat regional. Terkait tawaran bantuan Singapura untuk menangani kebakaran hutan di Indonesia, Fu mengatakan belum ada perkembangan terbaru.
“Tawaran bantuan kami tetap terbuka, dan kami sangat senang berdiskusi dengan rekan-rekan kami jika mereka menginginkannya,” kata Fu.
Saat ditanya mengenai bentuk bantuan yang dapat diberikan, Fu mengatakan Singapura menawarkan bantuan secara umum dan akan menyesuaikannya dengan kebutuhan Indonesia. “Kami menawarkan bantuan secara umum dalam bentuk apa pun yang mereka anggap sesuai dan dibutuhkan. Kami ingin bantuan kami relevan, sehingga pada dasarnya kami telah menyampaikan tawaran bantuan secara terbuka,” ujarnya.
Pemerintah Singapura juga berharap Indonesia dapat memenuhi target memadamkan kebakaran dalam waktu satu bulan. “Kami sungguh berharap target itu dapat tercapai. Seperti yang saya katakan, ini merupakan tugas yang sulit mengingat kondisi iklim saat ini. Namun, kami berharap mereka dapat mencapai tujuan tersebut,” kata Fu.
Kualitas udara Singapura memburuk
Kualitas udara Singapura memburuk pada Rabu (14/10/2026). Pembacaan PM2.5 per jam di wilayah barat mencapai 288 pada pukul 15.00, menjadi angka tertinggi yang tercatat di Singapura sejak 2015.
Pembacaan PM2.5 per jam juga berada pada tingkat tinggi di wilayah selatan, timur, dan tengah. Sementara itu, Indeks Standar Pencemar atau Pollutant Standards Index (PSI) selama 24 jam berada dalam kategori tidak sehat di seluruh Singapura per pukul 15.00.
Memburuknya kondisi udara mendorong Sport Singapore menutup sementara seluruh fasilitas luar ruangan dan fasilitas tanpa pendingin udara di pusat olahraga ActiveSG di wilayah barat. S
AFRA Toa Payoh juga menangguhkan kegiatan luar ruangan dan menutup kolam renangnya.
Pemerintah Singapura mulai mendistribusikan masker N95 secara bertahap pada Rabu setelah tingkat PM2.5 mencapai kategori sangat tinggi.
Masker tersebut tersedia secara bertahap di sejumlah titik pengambilan yang telah ditentukan. Pemerintah juga menyiapkan ruangan berpendingin udara di balai komunitas serta sejumlah pusat Residents’ Committee dan Residents’ Network sebagai tempat berlindung dari kabut asap.
Mengenai distribusi masker, Fu mengatakan pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk kontraktor yang akan menempatkan mesin penjual masker di berbagai wilayah Singapura.
“Kami menggunakan seluruh titik distribusi seefektif mungkin,” ujarnya. Fu mengatakan, diperlukan waktu agar mesin-mesin tersebut dapat menjangkau seluruh wilayah Singapura. Karena itu, ia meminta masyarakat bersabar sembari pemerintah mempercepat penyaluran masker ke seluruh negeri.


