INAKINI.COM – Virus Ebola kembali menjadi perhatian global setelah World Health Organization (WHO) menetapkan wabah yang terjadi di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo (RDK), serta Uganda sebagai public health emergency of international concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatiani internasional.
Penetapan status darurat tersebut diumumkan pada Minggu (17/5/2026), seiring meningkatnya jumlah korban jiwa akibat wabah yang telah menewaskan sedikitnya 80 orang dari ratusan kasus yang dicurigai.
Berdasarkan pernyataan resmi WHO, hingga 16 Mei 2026 tercatat delapan kasus yang telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, 246 kasus suspek, dan 80 kematian yang diduga terkait wabah di Provinsi Ituri.
Kasus-kasus tersebut tersebar setidaknya di tiga zona kesehatan utama, yakni Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu. Meningkatnya kasus kembali mengingatkan dunia pada sejarah panjang virus Ebola, salah satu patogen paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah kesehatan modern.
Apa Itu Virus Ebola?
Menurut WHO, Ebola disease merupakan penyakit berat yang sering berujung pada kematian pada manusia. Virus Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1976 dan sejak saat itu dikenal sebagai salah satu virus paling berbahaya di dunia.
Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, termasuk darah, cairan biologis, maupun benda yang telah terkontaminasi. Virus ini juga dapat menyebar melalui kontak dengan jenazah penderita yang meninggal akibat infeksi Ebola.
Gejala awal umumnya muncul dalam bentuk demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Seiring perkembangan penyakit, gejala dapat bertambah menjadi muntah, diare, nyeri perut, hingga pendarahan internal maupun eksternal pada sebagian pasien.
Tingkat kematian Ebola pada berbagai wabah sebelumnya sangat bervariasi, mulai dari 25% hingga 90%, dengan rata-rata fatalitas sekitar 50%.
Karena tingkat bahayanya yang tinggi, tenaga medis yang menangani pasien Ebola diwajibkan menggunakan perlindungan lengkap berupa pelindung kepala, kacamata, masker atau pelindung wajah, sarung tangan, gaun pelindung, hingga sepatu bot karet.
Struktur Ilmiah Virus Ebola dan Alasan Masuk Kategori Paling Berbahaya
Secara ilmiah, virus Ebola merupakan anggota famili Filoviridae dalam ordo Mononegavirales. Filovirus berbentuk filamen dan memiliki selubung, dengan materi genetik berupa asam ribonukleat (RNA) untai tunggal negatif yang tidak tersegmentasi.
Virus Ebola diklasifikasikan sebagai RNA virus untai tunggal negatif yang bersifat helical, polimorfik, dan tidak tersegmentasi. Virion Ebola yang bersifat infeksius umumnya memiliki panjang sekitar 920 nanometer dengan diameter sekitar 80 nanometer.
WHO mengelompokkan seluruh filovirus ke dalam kategori patogen kelompok risiko 4 (risk group 4). Artinya, virus ini memerlukan penanganan dengan standar keamanan laboratorium tertinggi atau biosafety level 4 (BSL-4).
Klasifikasi tersebut diberikan karena Ebola memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, kemampuan penularan antarmanusia, serta keterbatasan terapi dan vaksin untuk sebagian besar strainnya.
Selain itu, virus Ebola juga masuk kategori agen biosafety level 4 akibat potensi infektivitas melalui aerosol dan minimnya pilihan pengobatan.
Asal Muasal Virus Ebola yang Bermula dari Afrika Tengah
Untuk memahami ancaman yang kini kembali muncul dari Provinsi Ituri, jejak sejarah virus Ebola perlu ditelusuri hingga hampir lima dekade ke belakang. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Democratic Republic of the Congo.
Nama “Ebola” diambil dari Sungai Ebola yang mengalir di Zaire, nama lama negara tersebut. Pada 1976, wabah Ebola muncul hampir bersamaan di dua wilayah, yakni Sudan dan Zaire.
Wabah pertama yang dikenal sebagai Ebola-Sudan menginfeksi lebih dari 284 orang dengan tingkat kematian mencapai 53%. Beberapa bulan kemudian muncul varian kedua dari Yambuku Zaire, yang dikenal sebagai Ebola-Zaire atau EBOZ.
Strain ini tercatat sebagai varian paling mematikan dengan tingkat fatalitas mencapai 88%. Sebanyak 318 orang terinfeksi dalam wabah tersebut dan 280 di antaranya meninggal dunia. Angka tersebut setara dengan tingkat kematian 88,1%.
Wabah di Zaire bermula di Rumah Sakit Misi Yambuku, tempat praktik medis yang tidak memadai ikut mempercepat penyebaran virus di antara pasien dan tenaga kesehatan. Kedua kejadian tersebut kemudian mendorong respons internasional besar yang melibatkan WHO dan CDC.
Puluhan Tahun Teror Virus Ebola dari Kongo hingga Afrika Barat
Setelah kemunculan pertamanya pada 1976, virus Ebola tidak pernah benar-benar hilang. Selama puluhan tahun berikutnya, wabah terus muncul terutama di Kawasan Afrika Sub-Sahara.
CDC mencatat varian ketiga yang dikenal sebagai Ebola Reston atau EBOR pertama kali ditemukan pada 1989. Kasus ini muncul ketika monyet yang terinfeksi diimpor dari Mindanao, Filipina, menuju Reston, Virginia, Amerika Serikat.
Berbeda dari strain lain, varian ini diketahui tidak mematikan bagi manusia. Meski demikian, kemunculannya menjadi sinyal penting karena menunjukkan kemampuan virus untuk berpindah lintas benua.
Sepanjang dekade 1990-an hingga awal 2000-an, wabah Ebola kembali bermunculan di berbagai negara, seperti Gabon, Uganda, dan Republik Demokratik Kongo.
Setiap kemunculan baru memicu perlombaan waktu untuk menghentikan penyebaran dan memutus rantai penularan. Namun ancaman terbesar baru terjadi satu dekade kemudian.
Wabah Terbesar Virus Ebola Terjadi pada 2014–2016
Wabah Ebola terbesar dalam sejarah manusia berlangsung di Afrika Barat antara Desember 2013 hingga Maret 2016. Peristiwa ini tercatat sebagai wabah paling panjang dan paling mematikan yang pernah terjadi.
Total terdapat 28.652 kasus infeksi dan 11.325 kematian di 10 negara. Sebanyak 99% korban meninggal berasal dari Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.
Menurut laporan The Lancet Global Health, pada 23 Maret 2014 Kementerian Kesehatan Guinea melaporkan wabah Ebola virus disease (EVD) kepada WHO. Peristiwa tersebut menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya Ebola muncul di luar Kawasan Afrika Tengah.
Wabah kemudian menyebar ke Liberia, Sierra Leone, Mali, Senegal, hingga Nigeria. Kasus indeks dilacak berasal dari seorang anak berusia 18 bulan di sebuah desa di Guinea bagian selatan.
Anak tersebut diduga terpapar virus setelah kontak dengan kelelawar pada Desember 2013. Pada Maret 2014, wabah telah mencapai ibu kota Guinea. Jumlah kasus terus meningkat dan mencapai puncaknya pada Oktober 2014 dengan hampir 6.000 kasus baru hanya dalam satu bulan.
Secara keseluruhan, antara 2014 hingga 2016 sekitar 28.600 orang terinfeksi dan 11.325 orang meninggal dunia. Besarnya dampak wabah itu memicu reformasi besar di bidang kesehatan global.
WHO kemudian membentuk WHO Health Emergencies Programme pada 1 Juli 2016 atas permintaan Majelis Kesehatan Dunia. Setahun berikutnya lahir lembaga Africa Centres for Disease Control and Prevention atau Africa CDC untuk memperkuat respons darurat kesehatan masyarakat di kawasan Afrika.
Bundibugyo, Varian Virus Ebola yang Belum Memiliki Vaksin
Di tengah wabah 2026, perhatian ilmuwan kini tertuju pada Bundibugyo virus. Menurut laporan CNN, terdapat enam spesies virus yang berkaitan dengan Ebola. Namun hanya tiga yang paling sering menyebabkan wabah besar, yakni Ebola virus, Sudan virus, dan Bundibugyo virus.
Bundibugyo termasuk varian yang paling baru ditemukan dan paling jarang muncul. Berbeda dengan Ebola-Zaire yang telah memiliki terapi dan vaksin yang disetujui, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk Bundibugyo virus.
Kondisi ini membuat wabah 2026 menjadi lebih rumit. Sepanjang sejarah, hanya ada dua wabah Bundibugyo virus disease (BVD) yang pernah tercatat. Karena kemunculannya jauh lebih jarang dibanding strain Zaire, pemahaman ilmiah terhadap varian ini masih terbatas.
Di sisi lain, langkah pengendalian seperti pelacakan kontak dan pelibatan masyarakat menjadi lebih sulit dilakukan ketika penyebaran sudah meluas sebelum diumumkan secara resmi.
Meski situasi saat ini memunculkan kekhawatiran, dunia medis terus berupaya mencari solusi. Para peneliti telah mengembangkan kandidat vaksin eksperimental untuk strain Bundibugyo yang saat ini masih terus dikaji.
WHO bersama Africa CDC juga aktif melakukan koordinasi lintas negara untuk mempercepat respons. WHO mengimbau seluruh negara meningkatkan pengawasan dengan mengisolasi kasus terkonfirmasi, melakukan skrining di perbatasan dan jalur transportasi utama, serta mengaktifkan sistem manajemen darurat nasional.
Koordinasi regional dinilai sangat penting mengingat mobilitas penduduk antarnegera di kawasan terdampak tergolong tinggi. Sejarah panjang virus Ebola menunjukkan satu hal yang terus berulang, yakni virus ini selalu kembali.


