Tuesday, November 3, 2026
spot_img
HomeNewsPemerintah Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan Bergejolak

Pemerintah Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan Bergejolak

INAKINI.COM – Pemerintah Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tekanan inflasi yang berasal dari sektor pangan bergejolak (volatile food). Antisipatif ini diambil menyusul fase kekeringan di berbagai daerah yang berisiko mengganggu produktivitas pertanian serta memicu kenaikan harga komoditas di tingkat domestik.

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyampaikan bahwa dinamika cuaca kering menjadi salah satu fokus perhatian utama otoritas fiskal saat ini. Pemerintah memastikan koordinasi lintas sektoral terus diperkuat guna menjaga ketersediaan stok pangan tetap aman bagi masyarakat luas.

“Kami terus mencermati perkembangan produksi domestik di tengah tantangan cuaca kering yang terjadi. Koordinasi intensif antarlembaga terus dilakukan untuk menjamin pasokan pangan tetap terjaga dengan baik,” ujar Suahasil Selasa 3 November 2026.

Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi komponen pangan bergejolak pada Oktober 2026 tercatat berada di level 5,81% secara tahunan (year-on-year), dengan kenaikan bulanan mencapai 0,77%.

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat mendominasi andil inflasi bulanan, terutama disumbangkan oleh komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, serta tomat.

Kendati demikian, pemerintah menilai stabilitas makroekonomi secara keseluruhan masih berada dalam koridor yang terkendali. Inflasi inti pada Oktober 2026 terpantau stabil pada level 2,56% secara tahunan.

Sementara itu, inflasi headline secara keseluruhan tercatat sebesar 3,23% year-on-year, angka tersebut masih berada di dalam rentang target sasaran Bank Indonesia yang dipatok pada level 2,5% dengan deviasi plus minus satu persen.

Otoritas fiskal juga menyatakan akan segera mengevaluasi dampak pergerakan inflasi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional paruh kedua tahun 2026, seiring dengan rilis data resmi dalam waktu dekat.

Secara spasial, BPS mencatat fenomena inflasi terjadi di 33 dari 38 provinsi di seluruh Indonesia sepanjang Oktober 2026. Tingkat inflasi bulanan tertinggi tercatat di Provinsi Papua Selatan sebesar 1,12%, sedangkan deflasi terdalam dialami oleh Provinsi Gorontalo sebesar 0,67%.

Adapun secara tahunan, laju inflasi tertinggi di tingkat regional terjadi di Sulawesi Utara mencapai 8,07%, sementara DKI Jakarta mencatatkan inflasi tahunan terendah di angka 2,52%.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments