INAKINI.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I 2026.
APBN Semester I-2026 menunjukkan pola fiskal yang ekspansif di mana penerimaan negara tumbuh lebih cepat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun di sisi lain, pemerintah tetap meningkatkan belanja untuk mendukung agenda pembangunan nasional.
Kombinasi tersebut membuat APBN mencatat defisit Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisit APBN tetap terkendali sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB. Ini saya ulangi lagi APBN ini bagus, ekspansif dan mendukung pembangunan,” ujar Purbaya dalam APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.
Data yang dipaparkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam laporan Realisasi APBN Semester I 2026, mencatat pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun.
Nilai tersebut setara 46,3 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun dan meningkat 21,4 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp1.201,8 triliun.
“Pendapatan negara terus meningkat dari Rp574,9 triliun pada akhir Maret menjadi Rp1.459,4 triliun pada akhir Juni dengan pertumbuhan yang juga menguat menjadi 21,4 persen year on year,” kata Purbaya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan penerimaan negara bergerak lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tidak hanya berasal dari sektor perpajakan, tetapi juga ditopang penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Sehingga memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah untuk membiayai berbagai program prioritas.
Apa yang Mendorong Pendapatan Negara Tumbuh Lebih dari 20 Persen?
Kontributor terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang mencapai Rp1.187,8 triliun atau 44,1 persen dari target tahunan. Angka tersebut tumbuh 21,4 persen secara tahunan.
Di dalam penerimaan perpajakan, penerimaan pajak menyumbang Rp1.035,7 triliun atau 43,9 persen dari target APBN, naik 24,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp152 triliun atau 45,2 persen dari target. Pertumbuhannya sebesar 3,4 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan komponen pajak. Hal ini menyatakan bahwa penerimaan negara pada Semester I lebih banyak ditopang oleh penerimaan pajak.
Di luar perpajakan, PNBP mencapai Rp271 triliun atau 59 persen dari target tahunan Rp459,2 triliun. Persentase pencapaiannya menjadi yang tertinggi dibandingkan komponen penerimaan lainnya. Capaian tersebut menunjukkan PNBP telah melampaui separuh target dalam enam bulan pertama 2026.
Pada saat yang sama, pemerintah juga meningkatkan belanja negara. Hingga Semester I 2026, realisasi belanja mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Nilai tersebut tumbuh 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Belanja pemerintah pusat menjadi komponen terbesar dengan realisasi Rp1.298,6 triliun atau 41,2 persen dari target. Belanja kementerian/lembaga (K/L) terealisasi Rp658,9 triliun atau 43,6 persen dari pagu, sedangkan belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp639,7 triliun atau 39 persen dari target.
Di sisi lain, transfer ke daerah mencapai Rp357,4 triliun atau 51,6 persen dari target tahunan. Persentase tersebut menunjukkan penyaluran dana ke pemerintah daerah telah melewati separuh target APBN ketika tahun anggaran baru memasuki pertengahan.
Perbedaan antara pendapatan dan belanja menyebabkan APBN mencatat defisit Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB. Secara nominal, defisit ini lebih besar dibandingkan posisi Semester I 2025 yang sebesar Rp204,2 triliun.
“Belanja negara terus dioptimalkan untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah. Hingga akhir Juni, belanja telah mencapai Rp1.298,6 triliun atau 17,8 persen pertumbuhannya year on year,” sebut Purbaya.
Berdasarkan data semester sebelumnya, defisit 2025 sebesar Rp204,2 triliun dengan rasio 0,84 persen PDB, sehingga secara rasio terhadap perekonomian justru lebih rendah pada 2026, yakni turun menjadi 0,76 persen PDB.
Selain itu, keseimbangan primer yakni indikator yang menggambarkan posisi fiskal sebelum pembayaran bunga utang, masih mencatat surplus Rp85,1 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan pendapatan negara masih mampu menutup belanja di luar kewajiban pembayaran bunga utang. Lebih lanjut, data APBN Semester I 2026 juga memperlihatkan perubahan komposisi fiskal dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan negara sebesar 21,4 persen lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan belanja negara yang mencapai 17,8 persen.
Kondisi ini menghasilkan penerimaan negara meningkat lebih cepat dibandingkan laju ekspansi pengeluaran pemerintah.
Di sisi lain, realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp452 triliun atau sekitar 65,6 persen dari target tahunan Rp689,1 triliun. Pembiayaan tersebut menjadi instrumen untuk menutup kebutuhan defisit APBN selama Semester I 2026.
Secara keseluruhan, data Semester I 2026 menggambarkan tiga karakter utama APBN tahun ini. Pertama, penerimaan negara mengalami akselerasi yang kuat dengan pertumbuhan di atas 20 persen secara tahunan.
Kedua, pemerintah tetap mempertahankan belanja dalam skala besar untuk mendukung agenda pembangunan nasional.
Ketiga, meskipun APBN masih berada dalam posisi defisit, besaran defisit relatif terhadap PDB tetap berada di bawah satu persen, sementara keseimbangan primer masih mencatat surplus.
Gambaran tersebut menunjukkan ruang fiskal tetap digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi dengan pendapatan negara yang tumbuh lebih cepat dibandingkan peningkatan belanja pemerintah.


