INAKINI.COM – Rekrutmen tenaga kerja tambak udang terintegrasi Waingapu diikuti ribuan pelamar dari Sumba Timur. Penyiapan sumber daya manusia menjadi tahapan penting sebelum tambak beroperasi penuh.
Pembangunan tambak udang terintegrasi di Waingapu merupakan proyek budidaya udang berskala besar. Kawasan ini dibangun sebagai kawasan budidaya udang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Rekrutmen tenaga kerja untuk kawasan tambak udang telah dibuka sejak awal tahun ini. Jumlah pelamar tercatat mencapai 4.414 orang dari Sumba Timur dan sekitarnya.
Dari jumlah tersebut sekitar 2.333 orang telah melengkapi persyaratan administrasi. Rekruitmen tenaga kerja masih dibuka hingga akhir April 2026.
Kawasan tambak udang terintegrasi Waingapu diperkirakan membutuhkan sekitar 3.000 tenaga kerja. Tenaga kerja tersebut akan mengisi sektor konstruksi, operasional tambak, dan industri pendukung.
Tenaga kerja tidak hanya bekerja di kolam budidaya udang. Tenaga kerja juga dibutuhkan di sektor industri pendukung dan pengolahan hasil perikanan.
Penyiapan Tenaga Kerja Bagian Penting Proyek
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan I Nyoman Radiarta mengatakan penyiapan tenaga kerja menjadi bagian penting proyek ini. Menurutnya pembangunan tambak harus diikuti penyiapan sumber daya manusia.
“Kami tidak hanya membangperikanan. Tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia untuk operasional tambak,” ucapnya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
I Nyoman Radiarta mengatakan tenaga kerja yang direkrut akan dibagi dalam beberapa level pekerjaan. Level pekerjaan dimulai dari manajerial hingga operator lapangan.
Tenaga kerja yang belum berpengalaman tidak langsung bekerja di tambak udang. Pemerintah menyiapkan pelatihan sebelum tenaga kerja mulai bekerja.
“Kami menyiapkan pelatihan melalui kelas khusus, praktik, dan magang. Hal itu dilakukan agar tenaga kerja siap bekerja,” ucapnya.
Pelatihan tenaga kerja berlangsung selama 12 hingga 16 bulan. Pelatihan dilakukan di satuan pendidikan dan balai pelatihan milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Sebelum pelatihan teknis, tenaga kerja akan mengikuti pelatihan Komponen Cadangan selama dua bulan. Pelatihan tersebut bertujuan melatih fisik, mental, dan kedisiplinan tenaga kerja.
Rekrutmen tenaga kerja untuk tambak udang mendapat perhatian besar dari masyarakat lokal. Jumlah pelamar bahkan melebihi kebutuhan tenaga kerja yang dibuka.
Minat Masyarakat Bekerja di Tambak Cukup Besar
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumba Timur Markus K. Windi mengatakan tingginya jumlah pelamar menunjukkan minat masyarakat cukup besar. Banyak masyarakat berharap proyek tambak membuka peluang kerja baru di daerah.
“Jumlah pelamar yang mendaftar cukup banyak Ini menunjukkan minat masyarakat untuk bekerja cukup tinggi,” katanya.
Markus K. Windi mengatakan setiap pencari kerja wajib mendaftarkan diri di Dinas Tenaga Kerja untuk mendapatkan kartu pencari kerja. Data tersebut digunakan untuk mengetahui jumlah pencari kerja di daerah.
“Kartu pencari kerja digunakan untuk mendata pencari kerja. Sehingga pemerintah mengetahui jumlah tenaga kerja yang belum bekerja,” ucapnya.
Markus K. Windi mengatakan dinas tenaga kerja berperan menjembatani pencari kerja dengan perusahaan. Dinas juga memfasilitasi pelatihan kerja sesuai kebutuhan dunia usaha.
“Kami menjembatani pencari kerja dengan perusahaan. Serta memfasilitasi pelatihan berbasis kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja,” ucapnya.
Markus K. Windi mengatakan pelatihan tenaga kerja masih menjadi tantangan karena keterbatasan anggaran daerah. Pemerintah daerah berupaya bekerja sama dengan pemerintah pusat dan swasta.
Selain menyiapkan tenaga kerja, pemerintah juga membangun kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu. Kawasan ini dirancang sebagai kawasan budidaya udang modern dari hulu hingga hilir.
Kawasan Budidaya Terintegrasi
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) T.B. Haeru Rahayu mengatakan kawasan tambak dirancang sebagai kawasan budidaya terintegrasi. Kawasan ini menggabungkan budidaya, industri pendukung, dan pengolahan hasil perikanan.
“Kawasan ini dirancang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Sehingga kegiatan budidaya dan industri bisa berjalan bersamaan,” ucapnya.
Kawasan tambak udang terintegrasi Waingapu memiliki luas kawasan sekitar 2.150 hektare. Sementara luas lahan yang akan dibangun sekitar 1.361 hektare.
Pembangunan kawasan tambak udang membutuhkan investasi sekitar Rp7,2 triliun. Pendanaan berasal dari pinjaman luar negeri dan rupiah pendamping pemerintah.
Tambak udang menggunakan sistem budidaya intensif dengan produktivitas tinggi. Produksi udang diproyeksikan mencapai sekitar 52.000 ton per tahun.
Produksi udang tersebut akan dipasarkan untuk ekspor dan kebutuhan domestik. Pasar ekspor utama udang diproyeksikan menuju Amerika Serikat dan China.
Pengembangan tambak udang skala besar bukan hal baru di Indonesia. Indonesia sebelumnya memiliki kawasan tambak udang terintegrasi di beberapa daerah.
Salah satu kawasan tambak udang terintegrasi yang pernah berkembang berada di kawasan Dipasena, Lampung. Kawasan tersebut berkembang sebagai kawasan budidaya udang skala besar sejak akhir 1980-an.
Kawasan tambak udang Dipasena melibatkan ribuan petambak dalam sistem budidaya udang. Kawasan tersebut pernah menjadi salah satu pusat produksi udang nasional.
Pengembangan kawasan tambak udang skala besar dilakukan untuk meningkatkan produksi udang nasional. Produksi udang menjadi salah satu komoditas ekspor perikanan Indonesia.
Pembangunan tambak udang terintegrasi di Waingapu menjadi bagian dari pengembangan kawasan budidaya udang nasional. Kawasan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi udang dan membuka lapangan kerja di daerah.
Selain membuka lapangan kerja, proyek tambak udang juga diproyeksikan berdampak pada ekonomi daerah. Dampak ekonomi terlihat dari peningkatan aktivitas ekonomi di daerah.
Target Meningkatkan PDRB Sumba Timur
Kajian ekonomi menunjukkan pembangunan tambak udang dapat meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto Sumba Timur. Nilai PDRB diperkirakan meningkat dari Rp7,8 triliun menjadi Rp10,5 triliun.
Pada fase konstruksi, pembangunan tambak diperkirakan menyerap sekitar 1.889 tenaga kerja lokal. Pada fase operasional, total penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai sekitar 8.820 orang.
Perputaran upah tenaga kerja di daerah diperkirakan mencapai sekitar Rp260 miliar per tahun. Dampak ekonomi tersebut diperkirakan dapat dirasakan oleh puluhan ribu masyarakat di daerah.
Penyiapan tenaga kerja menjadi salah satu tahapan penting sebelum tambak udang beroperasi. Pelatihan tenaga kerja dilakukan agar operasional tambak dapat berjalan sesuai standar budidaya.
Tambak udang terintegrasi Waingapu tidak hanya berfokus pada produksi udang. Kawasan ini juga diproyeksikan menjadi kawasan industri dan penyerapan tenaga kerja di daerah.


